si anak manja

Bagaimana perjalanan hidupku siapa yang tahu.?  
duh beginilah nasib sianak yang larut dalam ujicoba dunia, seseorang pernah berkata kepadaku setiap dunia penuh dengan ujicoba maka aku tatkala mendengar lintasan suara petir menyala dari arah langit dia memberikan peringatan sekejap pandang.

Kisah hidup kita tak ada yang sama, ada yang penuh kesenangan dan ada yang penuh dengan penderitaan dan ratapan dan aku hanya selalu bermimpi setiap derai jarum jam yang berputar.

Sudut pandang kehidupanku seakan menjauh terbang, aku merasa menjadi anak yang berdosa dan bersalah sehingga aku bertanya pada ibuku “bu apakah aku ini hanya menjadi beban dalam hidupmu dengan perangaiku ini” tetapi ibuku menjawab “seberapa kesalnya ibu engkau tetap anakku, engkau yang kuharap membangkitkan keluarga ini (tabangkik batang tarandam) dalam istilah minang, hai anakku engkau adalah aset berharga bagi ibu”  dengan penuh dengan deraian air permata dipipinya.

Ketika ibuku berkata demikian seakan bumi dan langit serasa bergetar didalam hatiku, mengingat gambaran pada masa kecilku terbayang dalam layar lebar dimata ini. Dan aku hanya berkata dalam hati dengan tangisan penyesalan akan perbuatanku semasa kecil hingga yang selalu menampar wajahnya dengan perangai dan sifat bocahku dan bila kuingat keringat ayahku yang mengalir, tatkala tak bisa kubayangan lelahnya dia demi aku yang sangat bandal dan merengkel.

Satu hal yang sangat kuingat dalam hidupku ketika si ayah pulang selepas kerja dengan membawa buah tangan untuk diberikannya kepadaku demi melihat senyumanku walau lelah selalu menghampirinya setiap saat, ketika itu ayahku memanggilku dari sudut kamar "nak kemarilah ayah bawakan buahan untukmu" dan ketika itu dia juga memintaku memijatkan badannya yang sudah lelah dan aku menuruti permintaannya.

Mungkin jika sekarang dia (ayah) kembali meminta hal itu, aku tak akan sanggup melihat wajah sayunya yang lelah. sedih rasanya ketika aku mengingatnya.

Tetapi kebersamaan itu hilang, ayah dan ibu dipisahkan badai perceraian, aku hidup disuatu tempat yang tak pernah tetap yang selalu berpindah-pindah, sebelumnya aku dilahirkan disebuah kota kecil yaitu kota padang panjang dan aku dibesarkan dikota medan pada tahun 2000 keluargaku mencoba peruntungan dikota medan.

ketika sesampai di kota medan selang beberapa hari aku diberi pertanyaan oleh ayahku.
hai nak, maukah engkau bapak masukan sekolah ditahun ini.? aku hanya diam dan berpikir
tetapi pak, aku masih belum lancar bahasa indonesia.! aku menjawab dengan bahasa indomie ( indonesia-minang.
itu tidak masalah nak, asalkan umurmu mencukupi .? bertanya sambil berharap 
iya deh pak, terserah bapak .! menjawab penuh ragu
ya nak, besok bapak kesekolah.

pada suatu saat tibalah masanya untuk aku mulai sekolah SD dengan rasa tidak percaya diri, dengan bahasa indonesiaku yang tidak lancar
dan pada suatu ketika seorang guruku melempar pertanyaan perkenalan kepadaku
siapa namanya nak.? Bertanya dengan senyum
namo awak jefri buk . menjawab terbata-bata
oh ya jefri asalnya darimana.?
Awak asalnyo dari padang buk
Kenapa jefri pindah kesini .?
Ndk ada do buk, apak awak merantau disini buk.

Demi hari kehari aku menempuh pendidikan disekolah dasar dan seiring waktu yang berjalan aku bisa berbahasa indonesia dengan fasih. Aku terus belajar dan terus belajar. Masih kuingat ketika itu aku berlatih menulis dan membaca diatas kursi kayu yang setiap harinya ku coret, dibangku kayu itulah banyak menyimpan kenangan.

Masih teringat dibenakku aku belajar ditemeni seorang ibu yang asik menjahit dan dengan manjaku aku tidak mau tidur kalau ibuku belum selesai menjahit, dan aku adalah anak yang paling manja dulunya ketika hendak mau pergi sekolah saja aku masih digendong dibahu ayahku, manjaku ini berjalan beberapa hari.

Hingga disuatu ketika aku tidak mau digendong lagi oleh ayahku, karena kemarin siang ketika pulang sekolah aku ditertawakan oleh teman sekelasku
Mereka berkata
Hahahaha jefri anak bapak digendong tiap hari
Aku menjawab tertunduk malu
Setelah keesokan harinya aku tidak lagi digendong oleh ayahku
sejak kecil aku menjadi anak yang terbiasa manja, tetapi tak semestinya ini semakin berlarut dalam hidupku.

Tetapi pada seketika sampailah dimana puncak daripada hasil sekolah tersebut yaitu pengumuman hasil belajar. Dipagi hari yang cerah aku berangkat kesekolah dengan rasa takut dan bertanya apakah saya akan naik kelas atau tidak. Dikala itu cerita sedih juga menghampiri kala itu ibuku berhutang dengan tetangga untuk membawakan makanan untukku.
Setelah seluruh orangtua hadir pengumumanpun dimulai
Tetapi siapa sangka ibuku yang baru datang dengan bawaannya terkejut kebingungan mendengarkan namaku dipanggil kala itu dan ternyata alhasil aku berhasil memperoleh juara 2.

Masih kuingat kala itu seusai pulang dari sekolah ibuku menangis bahagia sambil memelukku seakan tidak percaya dengan hal ini.
jika engkau berpikir tentang kisahku maka engkau tidak akan pernah mengerti atas kisahku


Komentar

Postingan populer dari blog ini

air mata wanita mulia